Selamat Datang Di www.Primbon.org.Situs Yang mengulas Tentang Gaib,Klenik yang Di Ulas Secara Gamblang,Lengkap,Jelas.Ini Hanya Tulisan Semata,Ambil Sisi Positifnya Saja.




Ikuti Primbon Di Facebook

Cara Mengetahui Shio Sendiri

Bagi anda yang tertarik dengan ramalan shio,terlebih dahulu anda harus mengetahui apa shio anda melalui tanggal,bulan dan tahun ketika anda lahir.perlu diketahui,bahwa yang dipakai sebagai perhitungan adalah tahun imlek,bukan masehi.

Oleh karena itu,terdapat dua shio yang berbeda dalam satu tahun masehi.untuk lebih jelas dan detailnya,perhatikan panduan berikut.jika tahun baru imlek jatuh pada tanggal 7 februari 2008,artinya mereka yang lahir dari tanggal satu januari 2008-6 februari 2008 masih bersio babi.sedangkan yang lahir 7 februari-26 januari 2008 bershio tikus.

Gambar dibawah ini pembagian shio dan elemen bumi yang mengikutinya.




Mencari Baik -Buruknya Hari

Dalam kehidupan masyarakat Jawa yang masih memegang budaya dan kepercayaan tradisional dikenal adanya istilah ‘hari baik’ dan ‘hari buruk’. Maksudnya, ada suatu kepercayaan bahwa hari-hari dalam kehidupan manusia mempunyai pengaruh kegaiban tertentu bagi manusia, ada yang pengaruhnya baik, ada yang pengaruhnya buruk. Ada yang pengaruhnya hanya terjadi pada hari itu saja sehingga orang akan menghindari aktivitas tertentu pada hari yang dianggap tidak baik, ada juga yang pengaruhnya bersifat jangka panjang terhadap kehidupan manusia. Ada juga dalam budaya Jawa konsep ilmu petungan (perhitungan), yang melibatkan alam pemikiran makro dan mikrokosmos, jagad gedhe dan cilik, alam semesta dan manusia. Petungan dibuat bukan berdasarkan tahayul, tetapi berdasarkan titen, yaitu mengamati dan memahami kegaiban dan perilaku alam, sehingga muncullah konsep pranata mangsa, ilmu tentang ramalan cuaca dan musim (perilaku alam), yang sehari-harinya banyak digunakan sebagai patokan hari untuk merencanakan waktu menanam padi supaya hasil panen-nya baik dan banyak, terhindar dari kekeringan / banjir, dan terhindar dari hama dan penyakit tanaman.

      Untuk suatu perbuatan yang hanya berlaku satu hari saja umumnya yang dipercaya orang untuk dihindari adalah apa yang disebut sebagai hari pantangan. Walaupun tidak banyak dijalankan, dalam melakukan suatu perbuatan yang dianggap penting masih ada orang jawa yang menyesuaikan waktu dan hari pelaksanaannya supaya tidak ada nasib buruk yang dialami. Misalnya yang akan bepergian jauh akan menghindari hari Jum'at dan Sabtu, karena hari Jum'at sifatnya panas, banyak yang rusuh, banyak masalah, banyak pertengkaran dan perselisihan, dan hari Sabtu sifatnya berat, banyak naas, nasib buruk dan musibah. Selain itu ada juga yang menghindari hari buruk yang menjadi pantangan dalam hari kelahiran mereka masing-masing (pantangan dalam hari weton kelahirannya, bisa dilihat di dalam primbon jawa).

 Kepercayaan tentang hari yang baik dan buruk lebih diutamakan dalam melakukan suatu perbuatan penting yang pengaruhnya bersifat jangka panjang. Dalam melakukannya biasanya orang jawa akan menyesuaikan waktu dan hari pelaksanaannya, ada perhitungan harinya, supaya hasilnya baik seperti yang diharapkan dan tidak ada nasib buruk di belakang hari. Misalnya, yang akan memulai hidup baru di rumah yang baru (pindah rumah), atau yang akan memulai hidup baru berkeluarga (melangsungkan pernikahan), atau memulai usaha baru seperti membuka warung / toko, mereka akan menghindari hari Jum'at dan Sabtu, karena hari Jum'at sifatnya panas, banyak yang rusuh, banyak masalah, banyak pertengkaran dan perselisihan, dan hari Sabtu sifatnya berat, banyak naas, nasib buruk dan musibah, dan mereka akan menghindari bulan Suro karena sifatnya sakral dan bernuansa gaib negatif.
             Sifat-sifat hari yang akan disebut di bawah ini bersifat tidak mutlak, karena dipengaruhi juga oleh hari pasaran (pon, pahing, wage, legi dan kliwon), jam (pagi, siang, malam), dan wukunya (mingguannya), bulannya, dsb. Tetapi Penulis tidak akan menuliskan tentang pengaruh lainnya, karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu. Penulis juga tidak akan membahas lebih daripada tulisan ini, misalnya tentang perjodohan, dsb. Sebagai catatan, dalam penanggalan Jawa, hari dimulai pada pukul 5 sore hari sebelumnya dan akan berakhir pada pukul 5 sore hari yang bersangkutan. Jadi, batas suatu hari adalah pk.5 sore, dan mulainya hari adalah hari sebelumnya pk.5 sore. Hari Senin dimulai pada hari sebelumnya (Minggu) pk.5 sore dan berakhir pada hari Senin tersebut pk.5 sore. Hari Senin itu pada pk.6 sore (mahgrib) sudah terhitung sebagai hari Selasa, karena sudah melewati batas hari Senin pk.5 sore. Hitungan hari menurut penanggalan jawa ini pengaruhnya tidak semata-mata secara formal ditentukan oleh hari atau tanggal di dalam penanggalan jawa, tetapi terutama ditentukan oleh suasana batin orangnya sendiri yang mengsugesti batin orang yang bersangkutan.

 Misalnya, hari seseorang memulai usaha warung / toko tidak semata-mata ditentukan oleh hari saat seseorang mengisi tokonya dengan barang-barang dagangan atau hari saat pertama orangnya membuka tokonya, tetapi lebih ditentukan oleh suasana batin kapan orang tersebut merasa mulai berdagang atau berjualan. Begitu juga dengan perkawinan, tidak semata-mata ditentukan oleh hari saat seseorang melamar, ijab kabul atau hari resepsi perkawinannya, tetapi lebih ditentukan oleh suasana batin kapan orang-orang tersebut merasa telah resmi menjadi suami-istri.
          Hari seseorang pindah rumah tidak ditentukan oleh saat seseorang memindahkan barang-barang lamanya ke rumahnya yang baru atau hari saat pertama ia tidur di rumahnya yang baru, tetapi lebih ditentukan oleh suasana batin kapan orang tersebut merasa sudah pindah ke rumahnya yang baru. Biasanya dimulai saat perlengkapan tidur sudah dipindahkan, sudah tidur di rumahnya yang baru, sudah merasa pindah ke rumah yang baru dan tidak lagi memikirkan rumah yang lama.

 Pengaruh hitungan hari menurut penanggalan jawa ini berlaku untuk orang Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan orang Bali di pulau Bali. Untuk masa sekarang, orang Jawa yang sudah tidak tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan orang Bali yang sudah tidak tinggal di Bali, pengaruhnya terhadap mereka sedikit (masih berpengaruh tetapi kadarnya kecil). Tetapi bila mereka masih meyakininya di dalam hatinya, maka pengaruhnya terhadap mereka tetap besar, karena mereka meng-sugesti dirinya begitu.

MANFAAT LAKU TIRAKAT

Ada beberapa bentuk formal laku prihatin dan tirakat, misalnya :
1. Puasa, tidak makan dan minum atau berpantang makanan tertentu.
Jenisnya :
- Puasa Senin-Kamis, yaitu puasa tidak makan dan minum setiap
hari Senin dan Kamis.
- Puasa Weton, puasa tidak makan / minum setiap hari weton
(hari+pasaran) kelahiran seseorang.
- Puasa tidak makan apa-apa, boleh minum hanya air putih saja.
- Puasa Mutih, tidak makan apa-apa kecuali nasi putih dan air putih saja.
- Puasa Mutih Ngepel, dari pagi sampai mahgrib tidak makan dan
minum, untuk sahur dan buka puasa
hanya 1 kepal nasi dan 1 gelas air putih.
- Puasa Ngepel, dalam sehari hanya makan satu atau beberapa
kepal nasi saja.
- Puasa Ngeruh, hanya makan sayuran atau buah-buahan saja,
tidak makan daging, ikan, telur, terasi, dsb.
- Puasa Nganyep, hampir sama dengan Mutih, tetapi makanannya
lebih beragam asalkan tidak
mempunyai rasa, yaitu tidak memakai bumbu pemanis, cabai dan garam.
- Puasa Ngrowot, dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat
sahur dan buka puasa hanya makan buah-
buahan dan umbi-umbian yang sejenis saja, maksimal 3 buah.
- Puasa Ngebleng, tidak makan dan minum selama sehari penuh
siang dan malam, atau beberapa hari
siang dan malam tanpa putus, biasanya 1 - 3 hari.
2. Menyepi dan berdoa di dalam rumah. Tidak mendatangi tempat
keramaian dan tidak menonton hiburan.
3. Menyepi dan berdoa di makam leluhur / orang-orang linuwih, dan di
tempat-tempat yang dianggap keramat,
tidak mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.
4. Berziarah dan berdoa di makam leluhur / orang-orang linuwih, dan
di tempat-tempat yang dianggap keramat,
seperti di gunung, pohon / goa / bangunan yang wingit, dsb.
5. Mandi kembang telon atau kembang setaman tujuh rupa.
6. Tapa Melek, tidak tidur, biasanya 1 - 3 hari. Tidak mendatangi
tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.
7. Tapa Melek Ngalong, biasanya 1 - 7 hari. Siang hari boleh tidur,
tetapi selama malam hari tidak tidur, tidak
mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.
8. Tapa Bisu dan Lelono, melakukan perjalanan berjalan kaki dan bisu
tidak bicara, dari mahgrib sampai pagi,
melakukan kunjungan ke makam leluhur / orang-orang linuwih atau
ke tempat-tempat keramat dan berdoa.
9. Tapa Pati Geni, diam di dalam suatu ruangan, tidak terkena cahaya
apapun, selama sehari atau beberapa
hari, biasanya untuk tujuan keilmuan. Ada juga yang disebut Tapa
Pendem, yaitu puasa dan berdiam di
dalam rongga di dalam tanah seperti orang yang dimakamkan,
biasanya selama 1 - 3 hari.
10.Tapa Kungkum, ritual berendam di sendang atau sungai, terutama di
pertemuan 2 sungai (tempuran sungai),
selama beberapa malam berturut-turut dan tidak boleh tertidur,
dengan posisi berdiri atau duduk bersila
di dalam air dengan kedalaman air setinggi leher atau pundak.
Laku prihatin dan tirakat nomor 1 sampai 5 adalah yang biasa dilakukan
orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan kombinasi nomor 1
sampai 10 dilakukan untuk terkabulnya suatu keinginan tertentu yang
bersifat khusus, biasanya supaya mendapatkan berkah tertentu, atau
untuk tujuan keilmuan.
Tidak hanya dalam kehidupan keseharian, laku-laku kebatinan di atas
juga seringkali dilakukan sebelum seseorang melakukan suatu kegiatan /
usaha yang dianggap penting dalam kehidupannya, seperti akan memulai
suatu usaha ekonomi, akan pergi merantau, akan melangsungkan hajatan
pernikahan, dsb. Bahkan sudah biasa bila orang-orang tua berpuasa
untuk memohonkan keberhasilan kehidupan dan usaha anak-anaknya.
Masing-masing bentuk laku prihatin dan tirakat mempunyai kegunaan dan
kegaiban sendiri-sendiri yang dapat dirasakan oleh para pelakunya, dan
mempunyai kegaiban sendiri-sendiri dalam membantu mewujudkan tujuan
laku pelakunya.
Puasa weton terkait dengan kepercayaan dan kegaiban sukma (kepercayaan
pada kebersamaan roh sedulur papat). Biasanya dilakukan untuk
terkabulnya suatu keinginan yang sifatnya penting, dan untuk menjaga
kedekatan hubungan dengan para roh sedulur papat dan restu pengayoman
dari para leluhur, supaya kuat sukmanya, selalu peka rasa dan batin,
peka firasat, hidupnya keberkahan dan lancar segala urusannya. Puasa
weton tidak bisa disamakan, digantikan atau ditukar dengan puasa
bentuk lain, karena sifat dan kegaibannya berbeda.
Sesuai ajaran kejawen, sebelum melaksanakan puasa berdoalah di luar
rumah menghadap ke timur. Begitu juga pada malam hari selama
berpuasa, berdoalah di luar rumah menghadap ke timur. Setelah selesai
berpuasa berdoa juga mengucap syukur karena telah diberi kekuatan
sehingga dapat menyelesaikan puasanya. Lebih baik lagi jika diawali
atau ditutup dengan mandi kembang untuk membersihkan diri dari
aura-aura negatif di dalam tubuh.
Untuk keperluan sehari-hari, misalnya untuk mempermudah jalan hidup,
cukup puasa weton 1 hari (1 hari 1 malam), atau puasa Senin - Kamis
saja, atau bisa juga mandi kembang saja (bisa hari apa saja sekali
sebulan).
Dalam hal menjaga supaya kehidupannya selalu 'keberkahan' dan
dijauhkan dari kesulitan-kesulitan, puasa ngebleng adalah yang
terbaik. Biasanya dilakukan selama 1 hari 1 malam pada hari weton
kelahiran seseorang.
Untuk keperluan sehari-hari untuk mempermudah jalan hidup dan mengejar
sesuatu yang diinginkan, misalnya untuk kemantapan bekerja dan
perbaikan posisi / karir, cukup puasa weton 1 hari saja secara rutin
setiap bulan. Lebih baik lagi jika disertai dengan mandi kembang untuk
membersihkan diri dari aura-aura negatif di dalam tubuh.
Dalam hal keinginan terkabulnya suatu hajat / keinginan khusus,
sesuatu yang tidak terjadi setiap hari, yang biasa dilakukan adalah
puasa ngebleng 3 hari 3 malam pada hari weton kelahiran seseorang.
Dalam hal keinginan terkabulnya suatu keinginan khusus yang disertai
nazar, yang biasa dilakukan adalah puasa ngebleng 3 hari 3 malam pada
hari weton kelahiran seseorang, dilakukan selama 7 kali (7 bulan)
berturut-turut tanpa putus dan ditutup dengan suatu ritual dan sesaji
penutup, atau acara tumpengan syukuran.
Dalam hal mencari suatu petunjuk gaib / wangsit, puasa ngebleng adalah
yang terbaik. Biasanya dilakukan selama 3 hari 3 malam tanpa putus,
hari Selasa atau Jum'at Kliwon dijepit di tengah, dan berdoa di malam
hari di tempat terbuka menghadap ke timur.
Untuk melengkapi pengetahuan tentang sifat-sifat hari, di bawah ini
ada beberapa petunjuk :
Bulan Besar atau Bulan Haji adalah bulan yang paling baik untuk semua
keperluan, untuk memulai usaha, pindah rumah atau pun perkawinan.
Bulan Maulud adalah bulan yang paling baik untuk semua keperluan yang
bersifat sakral, untuk ritual bersih diri, ruwatan nasib / sengkala,
ritual syukuran, ritual bersih desa, menjamas keris, mandi kembang,
berziarah, dsb.
Bulan Sura (Suro) adalah bulan yang paling tidak baik untuk semua
keperluan, memulai usaha, pindah rumah atau pun perkawinan. Bulan Sura
paling baik digunakan untuk upaya bersih diri dan lingkungan.
Bulan Sura umumnya diisi dengan ritual bersih diri / ruwatan,
membersihkan rumah dan pusaka, dsb.
Upaya bersih diri / ruwatan pribadi dapat dilakukan dengan cara
sederhana, yaitu dengan cara mandi kembang dan doa memohon supaya
dilapangkan / dibukakan jalan hidup dan dijauhkan dari segala macam
bentuk kesulitan. Sebaiknya juga dilengkapi dengan membersihkan rumah
dan lingkungannya, baik yang bersifat fisik maupun gaib.
Jika anda memiliki pusaka, pada bulan Sura ini terhadap pusaka itu
tidak harus dilakukan penjamasan, tapi cukup dibersihkan saja dan
diberikan sesaji dan disugestikan supaya pusakanya memberikan bantuan
yang positif dan disugestikan supaya membantu membersihkan segala
sesuatu yang bersifat negatif.
Bagi yang ingin mengadakan suatu hajat di bulan Suro, sebenarnya sih
boleh-boleh saja, terserah invidunya, tetapi secara spiritual memang
dianjurkan untuk tidak mengadakan hajat pernikahan, memulai usaha
ekonomi, pindah ke rumah baru atau hajat lain yang bersifat jangka
panjang di bulan Suro.
Pada Bulan Suro kondisi alam gaib di pulau Jawa memancarkan aura yang
tidak baik, dan dihawatirkan semua hajat yang dilakukan pada bulan
Suro akan membawa pengaruh yang tidak baik, seperti dipenuhi hawa
kebencian dan permusuhan, pertengkaran, sakit-penyakit, apes /
kesialan, dsb.
Pengaruh gaib bulan Suro hanya berlaku kepada orang Jawa di pulau Jawa
saja dan pengaruhnya itu bisa bersifat jangka panjang, karena
pengaruhnya itu akan menyatu dengan sukma manusia.

CONTOH LAKU TIRAKAT

Prihatinnya Orang Miskin Harta.
Walaupun seseorang kekurangan harta, tetapi dia tidak mengisi hidupnya
dengan kesedihan, rasa iri dan dengki dan tidak mengejar kekayaan
dengan cara tercela. Tetap hidup sederhana sesuai kebutuhannya dan
tidak menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Walaupun tidak dapat
memenuhi keinginan kebendaan duniawi secara berlebihan, tetapi tetap
menjalani hidup dengan rasa menerima dan bersyukur. Dan sekalipun
menolong dan membantu orang lain, tetapi dilakukan tanpa pilih kasih
dan tanpa pamrih kebendaan, dengan demikian hidupnya juga memberkahi
orang lain.
Filosofinya : makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan (hewan). Urip
iku mung mampir ngumbe thok.
Hidup seperlunya saja sesuai kebutuhan, bukannya mengejar / menumpuk
harta atau apapun juga yang nantinya toh tidak akan dibawa mati ke
dalam kubur.
Sekalipun mereka miskin harta, tetapi kaya di hati, sugih tanpa
bandha. Berbeda dengan orang yang berjiwa miskin, yang sekalipun sudah
berkecukupan harta, tetapi selalu merasa takut miskin, dan akan
melakukan apa saja, termasuk perbuatan yang tercela, untuk terus
menambah kekayaannya.
Prihatinnya Orang Kaya Harta.
Walaupun seseorang berlebihan harta, tetapi tidak mengisi hidupnya
dengan kesombongan dan hidup bermewah-mewahan. Tetap hidup sederhana
sesuai kebutuhannya dan tidak memenuhi segala keinginan melebihi apa
yang menjadi kebutuhan.
Seseorang yang kaya berlimpah harta, memiliki banyak benda yang bagus
dan mahal harganya dan melakukan pengeluaran yang "lebih" untuk ukuran
orang biasa, bukan selalu berarti tidak menjalani laku prihatin. Namun
hidup yang bermewah-mewahan sama saja dengan hidup berlebih-lebihan
(melebihi apa yang menjadi kebutuhan), inilah yang disebut tidak
menjalani laku prihatin.
Orang kaya harta, yang selalu mengsyukuri kesejahteraannya, akan
tampak dari sikap hatinya yang selalu memberi 'lebih' kepada
orang-orang yang membutuhkan pemberiannya, bukan sekedar memberi,
walaupun perbuatannya itu tidak ada yang melihat. Dan semua
kewajibannya, duniawi maupun keagamaan, yang berhubungan dengan
hartanya akan dipenuhinya, seperti yang seharusnya, tidak ada yang
dikurangkan.
Prihatinnya Orang Kaya Ilmu.
Orang kaya ilmu, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu spiritual, akan
menjalani laku prihatin dengan cara memanfaatkan ilmunya tidak untuk
kesombongan dan kejayaan dan kepentingan dirinya sendiri, dan tidak
untuk membodohi atau menipu orang lain, tetapi dimanfaatkan juga untuk
menolong orang lain dan membaginya kepada siapa saja yang layak
menerimanya, tanpa pamrih kehormatan atau upah.
Prihatinnya Orang Berkuasa.
Seorang penguasa hidup prihatin dengan menahan kesombongannya, menahan
hawa nafsu sok kuasa, dan tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk
kejayaan diri sendiri dan keluarganya saja. Kekuasaan dijadikan sarana
untuk menciptakan kesejahteraan bagi para bawahan dan masyarakat yang
dipimpinnya. Kekuasaan dimanfaatkan untuk menciptakan negeri yang adil
dan makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja,
sebagaimana layaknya seorang negarawan sejati.
Seorang politikus hidup prihatin dengan tidak hanya membela
kepentingannya, kelompoknya atau golongannya sendiri, atau untuk
mencari popularitas, menggoyang pemerintahan yang ada, tetapi
digunakan untuk mendukung pemerintahan yang ada dan meluruskan
jalannya pemerintahan yang keliru, yang menyimpang, untuk kepentingan
rakyat banyak.
Seorang aparat negara, aparat keamanan atau penegak hukum, hidup
prihatin dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban tugasnya dengan
semestinya dan tidak menyalahgunakan kewenangannya untuk menindas,
memeras, atau berpihak kepada pihak-pihak tertentu dan merugikan pihak
yang lain, mencukupkan dirinya dengan gajinya dan menambah rejeki
dengan cara-cara yang halal, tidak mencuri, tidak memeras, tidak
meminta / menerima sogokan.
Orang jawa bilang intinya kita harus selalu eling lan waspada. Selalu
ingat Tuhan. Tetapi biasanya manusia hanya mengejar kesuksesan saja,
keberhasilan, keberuntungan, dsb, tapi tidak tahu pengapesannya.
Sering dikatakan orang-orang yang selalu ingat Tuhan dan menjaga
moralitas, seringkali hidupnya banyak godaan dan banyak kesusahan.
Kalau eling ya harus tulus, jangan ada rasa sombong, jangan merasa
lebih baik atau lebih benar dibanding orang lain, jangan ada pikiran
jelek tentang orang lain, karena kalau kita bersikap begitu sama saja
kita bersikap negatif dan menumbuhkan aura negatif dalam diri kita.
Aura negatif akan menarik hal-hal yang negatif juga, sehingga
kehidupan kita juga akan banyak berisi hal-hal yang negatif. Di sisi
lain kita juga harus sadar, bahwa orang-orang yang banyak menahan
diri, membatasi perbuatan-perbuatannya, seringkali menjadi kurang
greget, kurang kreatif dan yang didapatnya juga akan lebih sedikit
dibandingkan orang-orang yang tidak menahan diri. Itulah resikonya
menahan diri. Tetapi mereka yang sadar pada kemampuan dan potensi
diri, peluang-peluang, dsb, dan dapat memanfaatkannya dengan tindakan
nyata, akan juga dapat menghasilkan banyak, tanpa harus lupa Tuhan dan
merusak moralitasnya.
Di sisi lain sering dikatakan orang-orang yang tidak ingat Tuhan atau
tidak menjaga moralitas, seringkali kelihatan hidupnya lebih enak.
Bisa terjadi begitu karena mereka tidak banyak beban, tidak banyak
menahan diri, apa saja akan dilakukan walaupun tidak baik, walaupun
tercela. Beban hidupnya lebih ringan daripada yang menahan diri.
Mereka bisa mendapatkan lebih banyak, karena mereka tidak banyak
menahan diri.
Di luar pandangan-pandangan di atas, sebenarnya, jalan kehidupan
masing-masing mahluk, termasuk manusia, sudah ada garis-garis
besarnya, sehingga bisa diramalkan oleh orang-orang tertentu yang bisa
meramal. Tinggal masing-masing manusianya saja dalam menjalani
kehidupannya, apakah akan banyak eling dan menahan diri, ataukah akan
mengumbar keduniawiannya.
Dalam tradisi jawa, laku prihatin dan tirakat adalah bentuk upaya
spiritual / kerohanian seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan
raga, ditambah dengan laku-laku tertentu, untuk tujuan mendapatkan
keberkahan dan keselamatan hidup, kesejahteraan lahiriah maupun batin,
atau juga untuk mendapatkan keberkahan tertentu, suatu ilmu tertentu,
kekayaan, kesaktian, pangkat atau kemuliaan hidup. Laku prihatin dan
tirakat ini, selain merupakan bagian dari usaha dan doa kepada Tuhan,
juga merupakan suatu 'keharusan' yang sudah menjadi tradisi, yang
diajarkan oleh para pendahulu mereka.
Ada pepatah, puasa adalah makanan jiwa. Semakin gentur laku puasa
seseorang, semakin kuat jiwanya, sukmanya.
Laku puasa yang dilakukan sebagai kebiasaan rutin akan membentuk
kebatinan manusia yang kuat untuk bisa mengatasi belenggu duniawi
lapar dan haus, mengatasi godaan hasrat dan nafsu duniawi, dan menjadi
upaya membersihkan hati dan mencari keberkahan pada jalan hidup. Akan
lebih baik bila sebelum dan selama melakukan laku tersebut selalu
berdoa niat dan tujuannya, mendekatkan hati dengan Tuhan, jangan hanya
dijadikan kebiasaan rutin saja.
Berat-ringannya suatu laku kebatinan bergantung pada kebulatan tekad
sejak awal sampai akhir. Bentuk laku yang dijalani tergantung pada
niat dan tujuannya. Diawali dengan mandi keramas / bersuci, menyajikan
sesaji sesuai yang diajarkan dan memanjatkan doa tentang niat dan
tujuannya melakukan laku tersebut dan menjauhkan diri dari
perbuatan-perbuatan jahat dan tercela. Ada juga yang melakukannya
bersama dengan laku berziarah, atau bahkan tapa brata, di
tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti di gunung, makam leluhur
/ orang-orang linuwih, hutan / goa / bangunan yang wingit, dsb.

AURA BATU CINCIN

Pengaruh dan hawa aura energi batu-batu yang disebut di atas adalah
yang bersifat alami dari batunya. Seandainya batu-batu tersebut ada
berpenghuni gaib di dalamnya, mungkin kemudian hawa energi batu
tersebut akan berubah, tidak sama lagi dengan aslinya, karena adanya
pengaruh aura energi dari keberadaan sosok gaib di dalamnya.
Dalam memilih batu akik biasanya orang memilihnya berdasarkan warna
batunya, ukuran dan kilauan sinar mengkilapnya. Sebaiknya diperhatikan
juga unsur manfaat dan kecocokkan aura energi batu tersebut dengan
pemakainya. Misalnya, orang yang berpembawaan keras dan panas,
emosional dan yang keras bersikukuh dengan pemikiran dan pendapatnya,
mungkin akan lebih baik jika memakai batu yang berhawa aura lembut,
supaya lebih baik dalam hubungan sosialnya, dan orang-orang yang
karakternya kurang bersemangat, kurang mantap pendiriannya dan kurang
gigih dalam berusaha, mungkin lebih cocok memakai batu yang berhawa
aura agak panas untuk menambah semangat dan untuk menambah kekerasan
pendirian dalam mengambil keputusan.
Cara menilai kecocokkan sebuah batu dengan seseorang, yang mudah
adalah dengan meminjam pakai cincin batu milik teman, dirasakan
kecocokkannya, dirasakan apakah hawa auranya terasa nyaman. Setelah
itu mungkin bisa mencari batu cincin yang sejenis dengan cincin itu
jika dirasa cocok.
Untuk mempelajari sifat-sifat dan sisi kegaiban batu akik dan yang
bertuah dan tentang kecocokkannya dengan seseorang dapat digunakan
cara menayuh yang serupa seperti dalam tulisan : Ilmu Tayuh / Menayuh
Keris.
Seringkali orang mengkoleksi / memakai batu akik adalah bukan hanya
karena keindahan atau kecocokkannya dengan batunya, tetapi karena ada
tuah tertentu yang diharapkan dan banyak juga yang khusus meminta atau
membeli batu akik dari orang pinter atau paranormal. Jenis kegaiban
(tuah) yang sering dipercaya orang diberikan oleh batu akik adalah
tuah untuk pengasihan, penglaris dagangan, keselamatan, kekuatan tubuh
dan pukulan, dan kesehatan. Bagi pemakainya, batu-batu tersebut
dimiliki bukan hanya sebagai benda koleksi atau dipakai sebagai
pemanis, tetapi juga sebagai jimat. Kebanyakan batu akik memberikan
kegaiban biasa saja, tetapi cukup untuk mengsugesti pemakainya dalam
memakainya. Tetapi ada juga batu akik, walaupun jumlahnya sangat
sedikit, yang kegaibannya sangat tinggi, seperti anti cukur, anti
bacok / tusuk senjata tajam, dsb.
Pengertian istilah batu akik adalah jika kita memandang batu akik
sebagai sebuah batu cincin hiasan, yang tidak termasuk dalam kategori
batu permata dan mustika. Jika kita memandangnya sebagai batu yang
memberikan tuah kegaiban tertentu (karena ada sosok gaib di dalamnya),
maka jenis batu ini sering disebut sebagai batu aji.
Khodam jimat batu akik, jimat rajahan, khodam jimat isian / asma'an
dan khodam keris kamardikan bisa dari jenis apa saja, bisa dari jenis
bangsa jin, kuntilanak, gondoruwo, sukma manusia (arwah) atau pun
jenis mahluk halus lainnya. Karena itu orang-orang yang memiliki
benda-benda gaib tersebut sebaiknya berwaspada, terutama pada
perwatakan mahluk halusnya dan pengaruh negatif dari keberadaannya
(misalnya mencari tahu dengan cara yang sama seperti menayuh keris).
Bila anda mempunyai benda-benda koleksi pribadi atau ada bagian rumah
anda yang kira-kira berpenghuni gaib, sebaiknya anda oleskan sedikit
dengan minyak jafaron, sambil anda oleskan juga sedikit di jari-jari
tangan anda, supaya kalau isi gaibnya ada yang dari golongan hitam
atau yang berenergi negatif, maka mahluk halus itu akan pergi menjauh,
untuk menjauhkan resiko negatif dari keberadaannya. Jika jelas bahwa
perwatakan sosok gaib benda itu tidak baik dan ada memberikan pengaruh
negatif, maka sebaiknya segera melakukan Pembersihan Gaib (baca juga
: Sesaji Untuk Benda Gaib dan Pembersihan Gaib 2).
Secara umum, dengan kepekaan rasa, dari melihat bentuk fisik sebuah
batu akik kita bisa memperkirakan isi sosok gaib yang menghuni di
dalamnya, tetapi ini hanya berlaku untuk batu akik yang secara alami
berpenghuni gaib di dalamnya, bukan untuk batu-batu yang merupakan
jimat isian.
Ada batu-batu tertentu yang masih muda umurnya, biasanya ditandai
dengan permukaan batunya yang tidak mengkilap. Biasanya warnanya
padat, tidak bening transparan. Walaupun sesudah diasah batunya bisa
mengkilap, tetapi mengkilapnya tidak cukup bagus.
Jenis-jenis batu muda ini banyak yang di dalamnya berpenghuni gaib,
tetapi kebanyakan mahluk halus tidak betah tinggal di dalam jenis batu
muda sehingga jenis batu muda ini tidak cocok untuk dijadikan jimat
isian. Batu-batu yang masih muda ini, jika secara alami berpenghuni
gaib, biasanya isi gaibnya adalah mahluk halus kelas bawah dan yang
kekuatannya rendah. Kebanyakan isinya adalah jenis kuntilanak, bangsa
jin yang sosoknya mirip kuntilanak dan bangsa jin yang sosoknya hitam
tinggi besar. Mahluk halus yang kekuatannya lebih tinggi biasanya
tidak mau tinggal di batu-batu yang masih sangat muda, mereka lebih
suka batu yang sudah cukup tua, tapi tidak terlalu tua.
Ada batu-batu tertentu yang sudah cukup tua, tapi tidak terlalu tua,
biasanya permukaan batunya mengkilap bagus sesudah diasah. Walaupun
batunya mengkilap, tetapi ster-nya tidak kelihatan (mengkilap tapi
tidak ada ster-nya). Jenis-jenis batu (akik) ini banyak yang di
dalamnya berpenghuni gaib, dan mudah untuk menyimpan energi (jika
ingin diisi energi atau khodam tertentu).
Ada batu-batu tertentu yang sudah sangat tua umurnya, biasanya batunya
bening transparan. Jika sudah diasah batunya akan mengkilap bagus dan
banyak yang muncul garis ster-nya, ada yang ster-nya 4 garis, 5 garis,
6 garis. Jenis batu yang sangat tua seperti itu kurang bagus untuk
menyimpan energi dan tidak ada sosok gaib yang akan betah tinggal
disitu. Jika batu-batu itu secara alami berpenghuni gaib, biasanya isi
gaibnya adalah jenis bangsa jin yang sosoknya mirip kuntilanak
Jadi kalau anda menginginkan batu-batu yang tidak berpenghuni gaib
seharusnya anda memilih batu-batu tua seperti di atas, atau memilih
jenis-jenis batu permata yang batunya sudah sangat tua. Tetapi jika
menginginkan batu-batu yang berisi khodam, atau nantinya akan diisi
energi atau khodam gaib tertentu, seharusnya memilih batu-batu yang
umurnya sudah cukup tua, tetapi tidak terlalu tua dan juga tidak
terlalu muda (dikira-kira). Tetapi uraian di atas bukanlah sesuatu
yang pasti, karena untuk mengetahui dengan pasti kondisi yang
sebenarnya haruslah dengan cara diperiksa satu per satu batunya.
Bagi yang hobi mengkoleksi batu akik, mungkin bisa juga mengumpulkan
batu-batu mentahnya untuk diasah menjadi batu cincin. Bagi yang awam
dan yang belum biasa mengasah batu mentah menjadi batu cincin,
biasanya tidak mengerti jenis-jenis batu yang cocok untuk dijadikan
batu cincin. Sebagai petunjuk awal, batu-batu yang cukup tua dan dalam
kondisi basah mengkilat memantulkan sinar matahari biasanya cukup baik
untuk diasah dijadikan batu cincin.

KEGAIBAN BATU CINCIN

Beberapa jenis batu akik dan potensi pengaruhnya sbb :
Batu Giok (giok Cina ataupun giok lokal). Batu giok ada yang
berwarna hijau, coklat dan hitam. Membuat hati bertambah tenang dan
tentram dan dapat menyerap energi negatif tubuh, sehingga tubuh dan
pikiran menjadi lebih sehat. Dibandingkan batu giok tua, batu giok
muda (yang berwarna hijau muda keputihan) lebih kuat dalam menyerap
energi negatif tubuh dan membersihkan aura wajah. Ada beberapa jenis
batu giok muda yang ketika menyerap energi negatif pemakainya, batu
itu akan berubah warnanya menjadi lebih gelap dan kusam.
Batu Biduri Bulan. Berwarna putih transparan dan akan memantulkan
warna putih kebiruan bila terkena cahaya. Membantu aura tubuh dan
wajah menjadi lebih bersih, cerah dan bersinar.
Batu Anggur. Umumnya berwarna putih transparan dan di dalamnya ada
seperti kabut putih. Menambah ketenangan hati dan pengasihan.
Batu Merah Siam. Yang berwarna merah terang dapat menambah
semangat, keceriaan dan kesegaran berpikir.
Batu Merah Siam Rose (batu siam merah keunguan atau merah jambu).
Memperkuat rasa kasih kepada orang lain.
Batu Akik Hitam. Menambah kemantapan bersikap, gagah dan
berwibawa. Yang bagus adalah yang batunya tua (mengkilap dan ster-nya
jelas terlihat).
Batu Badar.
Batu Yaman. Berwarna coklat gelap atau hitam, tetapi berwarna
kemerahan bila ditembusi sinar. Menambah kemantapan bersikap. Bagi
orang-orang yang sensitif, jenis batu yaman dan batu-batu berwarna
coklat seperti madu dapat menyebabkan pikiran berat dan cepat penat
(pikiran butek).
Batu Kecubung Asihan. Berwarna ungu. Menambah ketentraman batin
dan memancarkan aura pengasihan (membuat si pemakainya selalu dikasihi
oleh orang lain). Batu Kecubung Asihan berwarna ungu terang memberikan
pengaruh yang lebih kuat daripada Batu Kecubung Asihan berwarna ungu
gelap.
Batu Es / Kristal. Menambah ketenangan hati dan pikiran.
Batu Kalimaya. Batunya bisa berwarna apa saja dan akan memantulkan
sinar warna-warni bila terkena cahaya matahari. Menambah rasa percaya
diri. Hawa energinya agak panas.
Batu Sulaiman. Untuk ketentraman batin, menambah karisma keagunggan.
Batu Mata Kucing. Menambah keberanian dan rasa percaya diri.
Berhawa aura panas. Bagi pemakai yang tubuhnya sensitif dapat
menyebabkan panas dalam. (Hati-hati, banyak batu mata kucing masakan
dan imitasi).
Batu Zamrud. Berwarna hijau sampai hijau tua. Sejuk dan teduh di hati.
Batu Pirus. Yang bagus adalah yang berwarna biru dan gambar
uratnya berwarna emas. Menambah karisma wibawa dan kebijaksanaan
kesepuhan. Cocok untuk orang-orang tua.
Batu Aquamarine. Biru bening. Sejuk, berbelas-kasih.
Batu Ruby. Menumbuhkan dan menjaga rasa cinta.
Batu Kinyang Air. Sejuk di hati.
Batu Tapak Jalak. Untuk kekuatan badan. Mengeluarkan aura panas
yang menyebabkan pemakainya menjadi mudah marah, disegani dan dijauhi
orang (yang persilangan cincinnya tebal dan menonjol keluar).
Batu Madu. Berwarna coklat seperti madu. Bagi orang-orang yang
sensitif, jenis batu berwarna coklat seperti madu dapat menyebabkan
pikiran berat dan cepat penat (pikiran butek).
Batu Combong, yaitu batu yang mempunyai lubang yang tembus dari
atas sampai ke bagian bawah batunya. Sebagian kalangan menganggap batu
combong berkasiat untuk pengasihan dan bisa untuk pelet. Tetapi banyak
batu akik combong yang aslinya bukanlah batu combong, karena
combongnya itu adalah hasil rekayasa.

CARA MENGISI AKIK

Benda bertuah yang paling banyak dimiliki manusia di jawa dan
digunakan sehari-hari adalah dari jenis batu akik. Pengertian batu
akik adalah jenis-jenis batu perhiasan yang nilai kekerasannya berada
di bawah batu permata dan tidak tergolong sebagai batu permata. Di
pulau Jawa juga ada banyak jenis-jenis batu mulia, tetapi jenisnya
adalah batu lokal, dan kadarnya lebih banyak disamakan dengan kelas
batu akik, tidak disamakan dengan batu permata yang mahal harganya.
Batu-batu itu dimuliakan orang tidak seperti batu permata yang indah
dan mahal harganya, tetapi disukai karena harganya yang relatif murah,
fisik dan warnanya bagus (relatif bagi setiap orang) dan ada juga yang
dianggap memiliki suatu kegaiban / tuah tertentu bagi pemakainya yang
sebagiannya merupakan batu mustika.
Tuah yang diharapkan dari suatu batu akik adalah dapat memberikan aura
atau pengaruh positif bagi si pemakai, baik pengaruh secara fisik
maupun psikologis, seperti tuah untuk pengasihan, keselamatan,
kekuatan tubuh dan pukulan, pengobatan / kesehatan, dan ketenangan
hati. Kebanyakan batu akik memberikan kegaiban biasa saja, tetapi
cukup untuk mengsugesti pemakainya dalam memakainya. Ada juga batu
akik, walaupun jumlahnya sangat sedikit, yang kegaibannya sangat
tinggi, seperti anti cukur, anti bacok, dsb, yang sebagiannya
merupakan batu mustika. Penulis tidak akan membahas sisi kandungan
gaib dari batu akik, karena kegaibannya tidak dapat dikategorikan
secara seragam, sehingga harus dilihat batunya satu per satu.
Masing-masing batu secara alami mengandung hawa energi yang
berpengaruh pada orang pemakainya. Batu akik yang memiliki tuah tinggi
biasanya dominan berasal dari kegaiban sosok mahluk gaib di dalam batu
akik tersebut (batu tersebut ada "isinya", tidak kosong). Tetapi tidak
semua batu akik memiliki sosok gaib di dalamnya, dan yang berpenghuni
mahluk gaib di dalamnya pun tidak semuanya memberikan tuah tertentu
kepada manusia pemakainya, karena mahluk gaib tersebut mungkin saja
hanya sekedar tinggal di dalam batu tersebut, sehingga jika diinginkan
supaya sosok gaib di dalam batu itu memberikan tuah tertentu, maka
harus lebih dulu di-"aktif"-kan kegaibannya dengan laku tertentu
(misalnya dibacakan suatu amalan gaib dan diberi sesaji tertentu).
Kebanyakan tuah dari batu akik yang dinikmati oleh para pemakainya
adalah berasal dari hawa aura energi alami batunya, bukan dari
kegaiban mahluk halus di dalamnya.
Dalam memilih batu akik, biasanya pemilihan warna merupakan faktor
utama. Batunya sendiri adalah sebagai sarana menyimpan / menyalurkan
energi / aura yang kekuatannya sebagai penyimpan / penyalur energi
itu antara satu batu akik dengan batu akik lainnya berbeda-beda
tergantung pada masing-masing jenis batunya, keaslian batunya,
warnanya, bentuknya, ukuran besar-kecilnya, cara memakainya, dsb.
Selain sisi gaibnya, masing-masing batu secara alami memiliki energi /
aura sendiri-sendiri yang pengaruhnya akan dirasakan sebagai positif
atau negatif tergantung pada kecocokkan si pemakai. Seseorang yang
fisiknya atau psikologisnya sangat sensitif, biasanya akan dapat
langsung merasakan pengaruh dari batu cincin yang dipakainya, entah
pengaruhnya baik ataupun tidak baik bagi dirinya. Pengaruh baik atau
tidak baik yang dirasakan setiap orang tidak sama, tergantung
kecocokkannya dengan batunya, sehingga pengaruh dari sebuah batu yang
sama akan dirasakan berbeda oleh setiap orang, tergantung
kecocokkannya masing-masing dengan batu tersebut.

SESAJI UNTUK KERIS

Keris-keris jenis ini biasanya dipergunakan di dalam acara
ruwatan,
sedekah desa, bersih desa, atau acara pembersihan /
pemberkatan
pembukaan lahan baru untuk bertani atau untuk tempat
tinggal, sebagai
sarana memindahkan mahluk-mahluk halus yang berwatak
jelek dan
mengganggu manusia. Setelah pembacaan doa dan sesaji,
mahluk-mahluk
halus itu dipindahkan ke dalam keris-keris sajen tersebut dan
kemudian
dilarung di sungai yang airnya mengalir. Pada ritual-ritual
yang
dilakukan secara pribadi, biasanya keris sajen dilarung dengan
cara
dikubur di dalam tanah dan di atasnya ditanam sebuah pohon
sebagai
tanda lokasi menguburnya.
Bertahun-tahun kemudian, atau pada masa sekarang,pi
kadangkala ada orang
menemukan keris sajen di sungai atau di bawah pohon atau
terselip di
antara batang pohon. Tetapi, janganlah anda memiliki dan
memelihara
jenis keris sajen ini, walaupun jenis keris ini sekarang banyak
juga
diperjual-belikan, karena mungkin berisi mahluk-mahluk gaib
yang
dulunya menjadi pengganggu manusia.
Dalam sejarah keris, memang tidak semua keris membawa
pengaruh positif
bagi pemiliknya, bahkan ada di antaranya yang justru
membawa petaka
bagi pemiliknya. Efek buruk dari sebuah keris baru muncul
ketika keris
tersebut tidak cocok dengan pemiliknya atau ada perbuatan si
pemilik
keris yang si keris tidak berkenan. Namun sejarah juga
menunjukkan
bahwa para pemimpin, pejuang, dan orang-orang sukses
terdahulu yang
dalam kehidupannya dekat dengan pusaka, kesuksesan-
kesuksesan yang
diraihnya selalu diiringi oleh pusaka-pusaka yang tepat.
Kecocokkan sebuah keris dengan pemiliknya antara lain juga
tergantung
pada kecocokkan tuah keris dengan status / pekerjaan si
pemilik
(aktivitasnya sehari-hari). Misalnya, keris bertuah kesaktian,
kekuasaan dan wibawa lebih cocok dimiliki oleh pejabat di
pemerintahan
atau swasta, perwira polisi atau tentara. Jenis ini kurang
cocok untuk
yang pekerjaannya petani atau pedagang. Keris bertuah untuk
rejeki
lebih cocok dimiliki oleh seorang petani atau pedagang (yang
memiliki
sumber pendapatan sendiri, bukan dari gaji / upah). Jenis ini
kurang
cocok untuk yang pekerjaannya polisi atau tentara. Dengan
kata lain,
kecocokkan sebuah keris dengan pemiliknya selain tergantung
pada
kecocokkannya dengan karakter kepribadian orangnya, juga
kecocokkannya
dengan aktivitas keseharian si pemilik.
Keris yang cocok dengan pemiliknya akan memberikan
pengaruh yang
positif. Ketika dipakai bersosialisasi akan mendekatkan
banyak orang
kepadanya dan meneduhkan hati orang-orang yang
memusuhinya. Keris juga
akan membantu dalam kegiatan usaha / ekonomi, membantu
kesehatan dan
ketentraman keluarga.
Pada jaman sekarang banyak keris yang hawa aura mistisnya
sudah redup,
sudah dingin / adem / anyeb, seperti keris kosong tak
berpenghuni
gaib. Hawa auranya sudah menurun karena terpengaruh
perkembangan
jaman dimana pengaruh keberadaan keris sudah mulai
diabaikan, tetapi
kekuatan aura keris-keris tersebut akan terasa kembali ketika
sudah
menyatu dengan seorang pemilik yang sesuai.
Pada jaman dulu banyak keris yang dibuat berhawa aura
panas dan angker
untuk menaikkan wibawa keris dan pemakainya. Tetapi pada
jaman
sekarang sebaiknya dihindari memelihara keris yang berhawa
aura panas.
Ketika kita sedang sehat atau masih berusia muda, aura
panasnya akan
menambah wibawa dan semangat psikologis kita, tetapi juga
mempengaruhi
temperamen, menyebabkan mudah emosi. Namun ketika
kondisi tubuh kita
sedang lemah, atau karena kondisi usia yang sudah tua, kita
akan
menjadi mudah sakit-sakitan karena tubuh kita tidak dapat
mengimbangi
aura panasnya. Aura panas keris juga dapat berpengaruh
pada anggota
keluarga yang tubuhnya atau psikologisnya sensitif, dan dapat
juga
membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman, memudahkan
terjadinya
pertengkaran.
Agar tuah pusaka yang kita miliki dapat mengantarkan kita
pada
kebaikan yang kita inginkan, maka hal yang paling penting
untuk kita
lakukan adalah :
1. Mencocokkan kepribadian pusaka kita dengan kepribadian
kita.
2. Mencocokkan tuah pusaka kita dengan jalan kehidupan /
penghidupan kita.
3. Mencocokkan tuntutan pemeliharaan keris dengan
kedekatan hati dan
ketelatenan kita.
Keris-keris yang tidak sejalan dengan kita sebaiknya jangan
kita
paksakan untuk tetap bersama kita, karena sudah pasti
tuahnya tidak
akan kita dapatkan dan nantinya kita dan keluarga malah
akan menjadi
terbebani dengan keberadaannya. Dengan upaya demikian
diharapkan
keris-keris yang kita miliki hanyalah keris-keris pembawa
kebaikan dan
keberuntungan saja, bukan sebaliknya, pembawa kesialan.

KERIS SAKTI

pada saat pembuatannya, tuah keris dibuat berdasarkan pertimbangan
yang bersifat pribadi, sehingga tuah keris yang dipesan oleh seorang
raja, bupati dan adipati, atau keluarga raja, dan penguasa dan pejabat
pemerintahan selalu mengenai kesaktian, wibawa kekuasaan dan
kepemimpinan. Tuah keris untuk para pedagang selalu berkisar pada
kejayaan berdagang. Tuah keris untuk rakyat biasa kebanyakan berkisar
pada kerejekian, keselamatan, ketentraman keluarga, keberkahan hidup,
dsb.
Sebagai benda pribadi, keris dibuat secara khusus agar memiliki tuah
yang sesuai dengan kepribadian dan kehidupan pemiliknya, sehingga
kekuatan tuah keris dapat secara maksimal mendukung aktivitas
keseharian dan upaya pemiliknya dalam mencapai keinginan atau
cita-citanya.
Tuah keris yang paling dasar adalah untuk kesaktian. Semua keris,
apapun jenis kerisnya dan jenis tuahnya, mengandung unsur kesaktian
dan kekuatan gaib di dalamnya.
Walaupun tuah utama sebuah keris adalah untuk kerejekian, ketika
sedang digunakan untuk berkelahi, keris itu akan berfungsi sebagai
keris kesaktian, menjadi senjata tarung, menjadi senjata tusuk dan
sabet untuk bertarung, berkelahi, dan kekuatan gaibnya berfungsi untuk
menembus kekebalan atau perisai gaib lawannya.
Walaupun tuah utamanya adalah untuk kerejekian, tetapi kekuatan
gaibnya tetap jauh lebih tinggi dibandingkan kesaktian jimat-jimat
yang biasa dipakai untuk kekebalan, seperti mustika wesi kuning, rante
babi, mustika merah delima ataupun jimat rajahan dan jimat-jimat kebal
isian. Jika benar-benar sedang digunakan bertarung / berkelahi,
kegaibannya juga akan menambah keberanian, semangat tempur, kecepatan
gerak dan kekuatan badan untuk berkelahi dan menambah kekuatan
keilmuan kesaktian manusia pemiliknya.
Walaupun tuah utamanya adalah untuk kerejekian, kekuatan gaibnya juga
bisa diminta untuk memberikan pagaran gaib atau perlindungan gaib
untuk si pemilik keris dan keluarganya.
Tuah dasar lainnya adalah untuk perlindungan gaib bagi si pemilik
keris dari serangan gaib atau kejahatan. Jadi, selain tuah utamanya
yang untuk kesaktian, kekuasaan atau rejeki, keris juga memberikan
tuah perlindungan gaib dan kekuatan gaibnya juga bisa diminta untuk
memberikan pagaran gaib atau perlindungan gaib untuk si pemilik keris
dan keluarganya.
Dengan demikian bila ada orang yang mengatakan bahwa keris anda adalah
sebuah keris yang bertuah untuk kekuasaan, kewibawaan, atau rejeki,
sebenarnya terkandung juga di dalamnya tuah untuk kesaktian dan
perlindungan gaib, walaupun tuah itu mungkin tidak terasa dominan.
Pada jaman sekarang kehidupan sudah diwarnai dengan peralatan listrik
dan elektronik. Lampu-lampu listrik, jalanan lebar dan sarana
transportasi bermesin dapat ditemukan dimana-mana. Penegakan hukum
sudah dilakukan oleh aparat-aparat negara. Orang berkelahi pun
urusannya akan sampai kepada kepolisian, apalagi mengancam atau
berkelahi menggunakan senjata tajam. Kehidupan manusia juga sudah
agamis, menjauhkan kehidupan manusia dari hal-hal gaib dan yang berbau
klenik. Keris juga tergolong sebagai senjata tajam yang tidak boleh
dengan bebas dikenakan atau dibawa-bawa ke tempat umum. Karena itu
pada jaman sekarang keris tidak lagi menjadi senjata dan pusaka yang
diinginkan orang.
Tetapi kehidupan jaman dulu tidak sama dengan kehidupan jaman
sekarang. Jaman dulu belum ada lampu- lampu listrik dan alat-alat
elektronik. Ketika malam datang, penerangan hanya berupa obor dan
lampu-lampu api kecil. Kegelapan terasa dominan. Apalagi di lingkungan
tempat tinggal manusia masih banyak pohon-pohon besar dan lebat,
gunung, bukit, hutan dan tanaman-tanaman liar yang lebat,
tempat-tempat yang nyaman untuk tempat tinggal mahluk halus dan juga
nyaman untuk dijadikan sarang penyamun. Tempat-tempat angker dan
wingit ada dimana-mana. Interaksi mahluk halus dengan manusia sudah
biasa terjadi. Ilmu-ilmu kesaktian dan perdukunan adalah sesuatu yang
umum.
Itulah sebabnya keris-keris buatan para empu memberikan tuah dasar
berupa kesaktian dan perlindungan dari serangan mahluk gaib dan akan
memberikan peringatan agar waspada bila akan ada kejadian musibah atau
kejahatan. Keris menjadi alat pelindung yang dibutuhkan dalam
kehidupan sehari-hari manusia.
Pada jaman itu seorang empu keris adalah juga seorang spiritualis dan
pemuka agama / rohaniwan yang seringkali juga diminta untuk memimpin
suatu ritual keagamaan dan kerohanian (baca : Keris dan Empu Keris).
Karena itu sebuah keris yang diterima dari seorang empu keris akan
sangat dihargai dan juga 'dikeramatkan', lebih daripada sekedar jimat
dan senjata, karena berisi doa-doa keselamatan dan kesejahteran dari
seorang spiritualis dan pemuka agama untuk si pemilik keris.
Dengan demikian, lebih daripada sekedar sebuah senjata, keris juga
secara psikologis menjadi lambang kerohanian dan kedekatan hati dengan
Tuhan. Karena itulah sang pemilik keris akan benar-benar menjaga dan
memelihara kerisnya, bahkan akan 'mengeramatkan'-nya, lebih daripada
sekedar senjata atau pun jimat. Sesuai agama manusia pada masa itu,
keris menjadi sarana kedekatan hati dengan Tuhan dan juga menjadi
sarana pemujaan kepada Tuhan. Karena itu seorang pemilik keris akan
selalu menjaga kelurusan hati, tekun beribadah, menjaga moral dan budi
pekerti dan sikap ksatria. Orang jawa yang mengerti kawruh kejawen
memahami bahwa keris adalah bersifat sakral, bukan klenik. Itu juga
sebabnya orang-orang yang bergerak dalam dunia kejahatan, yang menjadi
penyamun, perampok, dsb, orang-orang golongan hitam, biasanya akan
menggunakan senjata jenis lain, bukan keris.
Pada jaman dulu aparat keamanan pun jauh dari jangkauan masyarakat,
karena hanya ada di pusat-pusat kerajaan, kadipaten atau kabupaten.
Biasanya masyarakat melakukan upaya swadaya, hukum ditegakkan sesuai
aturan umum yang berlaku di masyarakat setempat, hukum adat. Tetapi
upaya masyarakat itu menjadi tidak berarti ketika ada pihak-pihak
tertentu yang memiliki kekuatan yang besar, kesaktian yang tinggi,
memiliki anggota yang banyak, yang melakukan kejahatan atau
penindasan.
Juga sudah umum bila terjadi suatu pertengkaran akan selalu berujung
pada perkelahian dan pertarungan yang seringkali berujung pada
tewasnya seseorang. Karena itu pada jaman dulu ajaran budi pekerti dan
wejangan leluhur selalu ditekankan dalam kehidupan sehari-hari untuk
membentuk akhlak manusia yang baik dan menjauhkan manusia dari
perbuatan-perbuatan jahat. Kontras sekali dengan jaman sekarang yang
kehidupan manusianya sudah sangat agamis, tetapi ajaran agamis itu
juga yang seringkali dijadikan alat pembenaran untuk menindas,
menganiaya dan membunuh manusia lain.
Karena keberadaan aparat keamanan jauh dari jangkauan masyarakat, maka
pada jaman dulu ajaran budi pekerti dan wejangan leluhur selalu
ditekankan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran-ajaran budi luhur itu
pula yang membentuk manusia menjadi berwatak ksatria, maka bila
seseorang memiliki kemampuan ilmu bela diri atau kesaktian kanuragan,
diharapkan kesaktian itu tidak disalahgunakan untuk kesombongan dan
kejahatan, tetapi akan memunculkan ksatria-ksatria yang menggunakan
kesaktiannya untuk membela kebenaran dan menolong orang-orang yang
tertindas. Dengan demikian keksatriaan dan kesaktian kanuragan adalah
sesuatu hal yang penting untuk membela diri dan untuk menolong orang
lain, dan keris-keris buatan para empu itu juga selalu mengandung tuah
gaib untuk menunjang keksatriaan dan kesaktian, untuk disatukan dengan
kebatinan pemakainya, walaupun tuah itu juga tidak selalu dominan.
Secara umum keris-keris dibuat dengan tujuan mendampingi manusia
pemiliknya, tuahnya dan kekuatan gaibnya disesuaikan dengan si manusia
calon pemiliknya. Keris-keris dengan tuah kesaktian awalnya dibuat
untuk tujuan mendampingi pemiliknya yang berilmu kesaktian kanuragan
dan kebatinan. Sosok gaibnya akan menyatu dengan kebatinan orang
tersebut. Keris-keris jenis ini ada yang berkekuatan tinggi, ada juga
yang biasa saja. Tetapi sekalipun kekuatan / kesaktian gaibnya rendah,
setelah sosok gaibnya menyatu dengan manusia pemiliknya, akan
menjadikan kesaktian kebatinan manusia itu menjadi meningkat
berlipat-lipat dan sosok gaib keris itu akan mengikuti sugesti
kebatinan pemiliknya. Tetapi jika keris ini dimiliki oleh orang-orang
yang tidak menekuni kesaktian / kebatinan, biasanya sosok gaib
kerisnya akan pasif, hanya menunggu untuk diperintah secara khusus.
Dalam penyatuannya (pendampingan) kepada si manusia pemiliknya ada
sosok gaib keris yang tampak berdiri mendampingi tuannya, tetapi ada
juga yang tetap berdiam di dalam kerisnya. Masing-masing mempunyai
cara pendampingan sendiri-sendiri.
Keris-keris dibuat tidak ditujukan untuk adu kekuatan gaib, walaupun
kekuatan gaibnya bisa juga untuk adu kekuatan gaib (misalnya untuk
pembersihan gaib). Secara umum tujuan keris-keris dibuat dimaksudkan
dengan cara pendampingannya masing-masing keris-keris itu akan
memberikan tuahnya kepada si manusia, dan untuk hasil kerja yang
maksimal dalam pendampingan itu dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan
si manusia dengan kerisnya (ada interaksi batin).
Sifat kejiwaan keris sama seperti manusia yang memomong dan menjaga
anaknya. Bila si manusia peka rasa, bisa mendengarkan bisikan kerisnya
yang berupa ide dan ilham dan firasat (dan mimpi), maka orang itu akan
dituntun kepada jalan yang mengantarkannya sukses sesuai jenis tuah
kerisnya dan menjauhkannya dari kesulitan dan bahaya. Sifat kejiwaan
yang seperti itu tidak kita dapatkan dari benda-benda gaib lain.
Umumnya orang-orang jawa jaman dulu peka rasa dan batin, sehingga akan
mudah penyatuan kebatinannya dengan keris-kerisnya. Itulah juga
sebabnya orang-orang jawa jaman dulu, yang peka rasa, lebih memilih
keris daripada benda-benda gaib lain.
Seorang empu keris yang mendarma-baktikan hidupnya dalam jalur
perkerisan, bukan hanya melayani kalangan atas, tetapi juga mengayomi
masyarakat bawah. Sebagai seorang spiritualis dan pemuka agama
kadangkala seorang empu keris diminta untuk memimpin suatu ritual
keagamaan dan kerohanian, bukan hanya yang bersifat kenegaraan, tetapi
juga untuk masyarakat umum, seperti acara ruwatan, sedekah desa,
ritual bersih desa, syukuran sesudah panen, dsb. Keris-keris yang
dibuatnya juga bukan hanya yang bersifat pesanan khusus, tetapi juga
keris-keris yang dibuat masal untuk rakyat kebanyakan.
Untuk keperluan ritual keagamaan / kerohanian ada jenis keris khusus
yang disebut keris sajen. Biasanya bentuk garapannya sederhana tidak
seperti keris-keris pada umumnya. Ukurannya kecil dan panjangnya hanya
sejengkal tangan atau lebih sedikit. Ganja-nya menyatu dengan badan
kerisnya (ganja iras). Gagangnya juga dari besi, bukan kayu, biasanya
berbentuk kepala dan wajah manusia atau kepala dan wajah mahluk halus
yang menyeramkan.

KEGAIBAN TUAH KERIS

Keris sengaja dibuat oleh empunya dengan kegaiban di dalamnya, dibuat
khusus sesuai karakteristik kehidupan si pemesan, seperti untuk
perlindungan / keselamatan, kesaktian, kekuasaan, kepangkatan dan
wibawa, atau rejeki (dagang / tani). Dengan demikian kegaiban itu
merupakan ciri / karakteristik khusus dari sebuah keris. Kegaiban
inilah yang membedakan keris dengan benda-benda dan senjata jenis
lain.
Kegaiban atau Tuah Keris, diakui atau tidak, selain karena bentuk
kerisnya yang unik, adalah sesuatu yang diharapkan oleh si pemilik
keris dan menjadi pendorong mereka untuk memiliki / menyimpan keris.
Kekuatan gaib dan tuah masing-masing keris bervariasi tergantung pada
kekuatan gaib keris di dalamnya, ada tidaknya kegaiban / wahyu pada
diri pemiliknya dan kesempurnaan penyatuan kebatinan antara kerisnya
dengan si pemilik.
Secara teknis kasat mata, pemerhati keris biasanya menilai jenis tuah
sebuah keris dengan memperhatikan bentuk keris (dapur keris) dan
gambar pamor keris (corak / motif berwarna abu keputihan atau gambar
lain pada badan keris). Itu adalah cara yang umum dilakukan orang pada
jaman sekarang.
Cara ini didasari pada pendapat bahwa pada umumnya keris dibuat dengan
mengikuti pakem / aturan dasar yang berlaku, walaupun pada saat keris
itu dibuat, ada saja keris yang tidak sesuai dengan pakem pembuatan
keris pada jamannya. Itu terjadi pada beberapa keris yang mempunyai
bentuk dapur atau pamor yang berbeda dan dianggap baru pada jamannya.
Namun pada masa sekarang, para pemerhati keris sudah mengerti
variasinya dan bisa mempelajari polanya.
          Pengetahuan tentang dapur dan
pamor keris bisa dipelajari dari membaca buku-buku tentang keris yang
banyak dijual di toko-toko buku atau membaca tulisannya di internet.
Walaupun cara yang umum untuk menilai / mengetahui tuah keris
dilakukan dengan teknik seperti tersebut di atas, namun hasil
penilaian mereka tentang tuah dari suatu keris seringkali tidak
sejalan antara pendapat seseorang dengan seorang yang lain dan tidak
selalu sejalan dengan kegaiban tuah keris itu sendiri. Apalagi,
menurut penilaian Penulis, seringkali gambar pamor keris yang muncul
tidak direncanakan terlebih dahulu oleh sang empu, sehingga tidak
dapat dijadikan patokan dalam menilai tuah sebuah keris, kecuali
gambar pamor susulan, yang disisipkan atau ditatah pada badan atau
ganja keris, yang sengaja dibuat oleh sang empu setelah logam kerisnya
selesai ditempa.

Pembuatan keris bervariasi dari satu empu ke empu lainnya, tetapi
terdapat proses yang mirip, yaitu bilah besi sebagai bahan dasar keris
dipanaskan hingga berpijar, lalu ditempa berulang-ulang untuk membuang
kotoran logam. Setelah bersih dan matang, bilah besi dilipat seperti
huruf U untuk disisipkan bahan pamor di dalamnya. Selanjutnya lipatan
itu kembali dipanaskan dan ditempa berulang-ulang. Demikianlah logam
itu dipanaskan, dilipat dan ditempa kembali berulang-ulang, sehingga
gambar pamor yang muncul dari proses penempaan logam keris seringkali
terjadi dengan sendirinya diluar rencana sang empu.
Kami tidak banyak memiliki pengetahuan teknis mengenai masing-masing
nama dapur dan pamor keris, sehingga tulisan ini tidak ditujukan untuk
membahas itu.
Pada jaman sekarang pun banyak dibuat keris-keris baru yang bentuk
dapur dan pamornya seringkali tidak sesuai dengan pakem keris yang
berlaku. Keris-keris itu adalah hasil kreasi seni perkerisan pada
jaman sekarang yang sering disebut sebagai keris kamardikan, keris
jaman kemerdekaan. Tulisan ini juga tidak membahas tentang keris-keris
baru tersebut.
                Mengenai bentuk-bentuk fisik keris, bentuk dapur dan pamor keris, dsb,
sebenarnya Penulis tidak banyak mendalaminya, karena seringkali bentuk
fisik keris itu bukanlah asli kreasi sang empu keris, kebanyakan
adalah bentuk pesanan dari si calon pemilik keris, sehingga seringkali
bentuk fisik kerisnya tidak sejalan dengan perwatakan asli gaib
kerisnya, walaupun tidak banyak manusia yang menyadarinya (baca juga
tulisan berjudul Keris Lurus dan Keris Luk). Karena itu seringkali
Penulis terpaksa harus melihat dulu satu per satu keris-keris tersebut
untuk lebih dapat mengetahui sisi kegaiban dan perwatakan kerisnya.
Lagipula kondisi kegaiban dan tuah sebuah keris pada masa sekarang
mungkin tidak lagi sama persis seperti ketika pertama keris itu
dibuat.
Secara umum, keris-keris dengan dapur dan pamor yang sama memang sifat
tuahnya sejenis, karena para empu pembuatnya juga mengikuti norma
pakem / keseragaman kebatinan perkerisan. Tetapi selain tuahnya, ada
sisi lain yang juga harus diperhatikan, yaitu karakter gaib keris.
Walaupun keris-keris yang bentuk dapur dan pamornya sejenis biasanya
bentuk tuahnya juga sejenis, tetapi karakter gaibnya tidak persis
sama, misalnya pada keris-keris yang bentuk dapur dan pamornya sama,
ada yang karakter energinya halus, ada juga yang tajam, ada yang hawa
auranya halus dan teduh, ada juga yang keras dan panas, sehingga
keris-keris yang sejenis dapur dan pamornya itu pengaruhnya pada
setiap orang tidak selalu sama.
                 Contohnya adalah keris-keris yang karakternya keras dan sifat
energinya tajam, biasanya sangat baik untuk kesaktian dan penjagaan
gaib, tetapi sifat energi tajamnya itu berlawanan dengan urusan
kerejekian. Begitu juga dengan yang karakternya keras dan panas,
biasanya cukup baik untuk fungsi kewibawaan dan kekuasaan. Kalau
pemilik keris-keris itu seorang bos besar / pemilik usaha / kepala
kantor, mungkin tidak masalah. Tapi kalau pemiliknya seorang pedagang,
petani atau karyawan biasa, bisa jadi masalah.
Keris-keris yang berkarakter keras dan panas juga dapat menjadi
masalah lain bagi pemiliknya. Ketika masih berusia muda, penyatuan
karakter keris yang keras dan panas akan menambah semangat dan
kekerasan watak, tetapi ketika sudah berusia tua, seseorang akan mudah
sakit-sakitan karena kondisi fisiknya tidak dapat mengimbangi energi
panas kerisnya, kecuali ia memiliki kekuatan kebatinan yang tinggi
yang bisa mengimbangi panas aura energi kerisnya. Aura panas keris
juga dapat berpengaruh pada anggota keluarga yang tubuhnya atau
psikologisnya sensitif, dan dapat juga membuat suasana rumah menjadi
tidak nyaman, memudahkan terjadinya pertengkaran.
Tuah dari masing-masing keris mungkin bisa diketahui dari bentuk dapur
dan pamor keris, karena masing-masing empu keris juga mengikuti pakem
kebatinan perkerisan yang seragam, tetapi tentang karakter gaib keris
lebih banyak diketahui dengan rasa, secara kebatinan, tidak ditentukan
oleh fisik keris. Menayuh dengan model ayunan / pendulum cukup baik
untuk menanyakan tentang sifat karakter gaib keris dan pengaruhnya
pada pemiliknya.

Pos Populer